| Home | Latest Articles | Login | Register

Jangan Comment!!


Cukup lama saya absen mengisi blog ini. Selain karena pekerjaan, saya seperti mendapat kendala untuk menulis sampai akhirnya saya menemukan diri saya belum juga dapat memejamkan mata walau saat ini sudah lewat jam 4 pagi dan mendapatkan ide untuk menulis.

Baru-baru ini teman-teman di Kampung Gajah melakukan gerakan “Jangan Komen di Blog Seleb!“. Walaupun sepertinya ini adalah main-main, tapi saya melihat indikasi permasalahan sosial walaupun masih bertaraf kecil.

Blog memang termasuk hal baru dalam kehidupan netters Indonesia. Seringkali dijadikan sebagai catatan pribadi seseorang, wadah menuangkan uneg-uneg, sekedar memberikan informasi, dan masih banyak lagi. Pada blog terdapat fitur yang memberikan kesempatan pada pengunjung agar dapat berkomentar atas apa yang telah dipublikasikan oleh sipenulis artikel. Dan seperti ada hukum tidak tertulis bagi pemilik blog yang telah mendapat komentar untuk memberikan komentar balasan pada blog si pemberi komentar. (Kurang lebih sama seperti halnya testimonial pada Friendster)

Saya pribadi juga termasuk sering memberikan komentar pada blog yang saya kunjungi walaupun acapkali tidak menggunakan nama asli dan dengan IP address yang berubah-ubah. Namun saya hanya memberikan komentar pada postingan yang memang menurut saya perlu dikomentari saja.

Saya mengenal dan punya blog sendiri sejak tahun 2000 dengan alamat yang silih berganti mengingat saya termasuk orang yang malas untuk menulis. Pernah suatu kali, saya menon-aktifkan fasilitas komentar pada blog yang saya miliki karena alasan spam. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena saya berpikir akan sangat bagus jika pengunjung dapat memberikan tanggapan atas apa yang saya tulis, selain mungkin melakukan koreksi atas kesalahan yang telah saya perbuat pada tulisan yang dimuat juga dapat memberikan pengetahuan lain yang sebelumnya tidak saya ketahui.

Nah, sekarang kembali pada topik. Satu baris pada link diatas yang telah mendapatkan perhatian saya secara serius.

si X cuma 4 kali komen. si Y 3 kali doank. padahal gw rasanya komen ke blog mereka udah ratusan kali. sombong deh..
Saya yakin si X maupun Y atau siapapun yang dianggap selebriti tersebut benar-benar tidak mempunyai maksud seperti yang dituduhkan. Bukan bermaksud membela, namun saya melihat dari sudut pandang yang lain. Dari sudut pandang X atau Y atau bahkan saya sendiri sebagaimana yang pernah saya alami dahulu.

Baik, sebagai ilustrasi, saya pernah terlibat dalam sebuah komunitas lain. Dimana saya, yang tidak pernah bermimpi ataupun mengidam-idamkan, seperti dinobatkan untuk menjadi seorang pakar atau mungkin selebriti. Saya hanya melakukan apa yang menurut saya patut untuk dilakukan dan saya menikmatinya. Tidak lebih dari itu. Jika ternyata memang ternyata saya menjadi lebih banyak dikenal orang lain, saya pikir itu adalah hasil samping atas apa yang saya lakukan.

Pernah pada suatu ketika, ada seorang teman yang mengeluh mengapa saya tidak pernah menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan. Dan seperti biasanya, saya hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya pikir perlu dijawab dan selebihnya saya akan mengatakan, “RTFM!”, ya benar, saya banyak mengatakan itu. Tidak hanya kepadanya tapi juga kesemua orang yang bertanya. Atau saya memilih untuk tidak menjawab sama sekali. Oleh karena itu, saya dikenal sebagai orang yang keras dan arogan. Dan saya menerima anggapan tersebut.

Mungkin karena deadline pekerjaannya yang sudah mepet atau sudah malas memanfaatkan mesin pencari, teman tersebut sepertinya tidak puas dengan jawaban “RTFM!” yang saya berikan dan kemudian mulai memberikan komplain. Secara garis besar, komplain yang ia ajukan adalah bahwa saya dengan menjadi semakin dikenal banyak orang lantas mengabaikan para pemula yang mau belajar.

Komplain tersebut cukup banyak saya terima, terutama dari mereka yang saya nilai malas untuk berusaha secara mandiri tanpa harus banyak bertanya. Karena banyak dari pertanyaan yang mereka ajukan dapat dijawab jika mereka mau meluangkan waktu sedikit lebih lama dengan mesin pencari.

Sepertinya hal saling berbalas komentar dan keharusan untuk menjawab semua pertanyaan adalah hal yang serupa. Hal yang sepertinya dialami oleh mereka yang lebih dikenal oleh publik. Beberapa orang dapat menghadapi hal tersebut dengan baik namun cukup banyak juga orang yang tidak. Dan saya termasuk kategori yang terakhir.

Berkomentar atau bertanya, seringkali, adalah hal yang baik. Namun jika dilakukan tidak menurut porsinya, secara berlebihan, akan punya dampak yang lain. Dan hal ini, menurut saya, menjadi masalah sosial yang serius. Siapapun orang yang menjadi korban pengkultusan tentunya menjadi dirugikan.

Seorang teman baik pernah berkata pada teman yang lain, “It is hard to be him“, mengenai saya. Dan benar apa yang dikatakannya. Saya teringat atas judul artikel yang ditulis Lois Lane untuk the Daily Planet dan kemudiam memenangkan the Pulitzer pada file Superman Return. Judul artikel tersebut adalah “Why the World Doesn't Need Superman“. Entah bagaimana otak saya menghubungkannya dengan gerakan yang dilakukan teman-teman di Kampung Gajah, “Jangan Komen di Blog Seleb!”.

Pesan moral yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini adalah ajakan untuk mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain.




Trackback URI http://coco.chocoboard.com/main/wp-trackback.php/1935

  1. ycclohat http://sxndajzq.com rrvztzaj vbmruseb <a href="http://oqsgtpne.com">qokxyhcd</a> [URL=http://uiwrouuq.com]tbuuapsj[/URL]
  2. igelrjuw http://egwrsycu.com elhqrges wcgbydbb <a href="http://eepwrrsq.com">edfzqzfg</a> [URL=http://hkxjyhhm.com]pptoocmo[/URL]
  3. vfibewwo http://ynibvsqz.com iohnkycf umvykbxp
  4. tuokrjia http://jilrfpmi.com qgnuwjot hjglvnor
  5. ukzmyjkg http://hwcuabas.com zgemryfv vhhobeyb



| 1 | 2

CHOC! (0)


Comments

Login

:  

:  

E-mail will not be publish


:  (required)
:  (required)
:  
:  
(required)

:  authimage

| 1